Permainan Arsenal Lebih Berkembang Sejak Ditinggalkan Arsene Wenger

Legenda Liverpool dan pengamat sepakbola, Jamie Redknapp menuliskan Unai Emery telah menyerahkan transformasi besar-besaran, yang telah membawa Arsenal menjadi klub yang lebih baik pasca ditinggalkan Arsene Wenger.

Jika membandingkan, terdapat perbedaan mood dari fans Arsenal saat mereka menginjak musim terakhir Wenger dan ketika ini saat sudah ditangani Emery. Jelas terdapat perbedaan signifikan dimana fans lebih hendak sekali menyaksikan kesebelasan kesayangannya bermain..

Beberapa orang merasa kepergian Wenger memang bertujuan untuk menciptakan tim lebih maju, sedangkan yang beda mempertahankan kepercayaan penuh pada keterampilan pelatih asal Prancis itu. Kendati dalam dua musim terakhir The Gunners tak masuk empat besar.

Pada kesudahannya Wenger mengundurkan diri dari posisinya sebagai manajer pada akhir musim lalu. Emery ditunjuk sebagai penggantinya, menyusul kepergiannya dari Paris Saint-Germain dimana ia berhasil memenangkan tujuh trofi dalam dua tahun.

Setelah mula yang sulit ketika mereka takluk dari Manchester City dan Chelsea, Emery mengirimkan Meriam London membuat 13 pertandingan berturut-turut tak terkalahkan di seluruh kompetisi. Kondisi itulah yang mendorong penyokong dan pakar sepakbola mulai memperhitungkan mereka sebagai pesaing posisi empat besar.

Liverpool menjadi klub teranyar yang menyantap permainan impresif The Gunners. Redknapp menyatakan terkejut dengan bagaimana respons orang sesudah James Milner memecah kebuntuan melewati golnya.

“Yang sangat mengejutkan saya mengenai hasil imbang Arsenal melawan Liverpool ialah atmosfer Emirates,” kata Redknapp di kolom Daily Mail.

“Para fans sarat dengan optimisme dan itu ialah suasana yang berubah drastis.”

“Itu seluruh untuk Unai Emery. Selama 10 tahun terakhir, fans mereka sudah menangis untuk tidak cukup greget dan tekad di kesebelasan mereka. Sekarang, tidak tahu kapan Arsenal bakal tumbang.”

The Gunnes mempunyai dua pertandingan kandang sebelum jeda internasional. Dimulai dengan laga Liga Europa pada Jumat (9/11) pagi-pagi sekali WIB melawan Sporting Lisbon, dimana kemenangan akan membawa mereka ke babak 32 besar.

Tiga hari lantas mereka bakal menyambut Wolves yang kalah dalam tiga pertandingan terakhir secara berturut-turut.

Ekspresi Kegembiraan Manajer Huddersfield Setelah Raih Kemenangan Perdana

Manajer Huddersfield Town, David Wagner gembira sesudah tim asuhannya mencatatkan kemenangan perdana di Premier League musim ini. Kemenangan tersebut dirah Huddersfeild ketika menjamu kesebelasan promosi Fulham pada, Selasa (6/11/2018) pagi-pagi sekali WIB.

Setelah Premier League berlangsung 11 pekan, kesudahannya Huddersfield berhasil meraih kemenangan perdana mereka. Kemenangan tersebut diraih dengan sulit payah berkat satu-satunya gol bunuh diri yang dilaksanakan bek Fulham, Timothy Fosu-Mensah di babak kesatu.

“Saya tidak peduli siapa yang mencetak gol atau bagaimana kami tampil. Orang-orang tahu kami dapat tampil lebih baik. Tekanan tersebut untuk kedua tim namun bagaimana kami berusaha – kami meninggalkan segalanya di lapangan,” kata Wagner selepas pertandingan untuk Sky Sports.

“Itu kemenangan yang pantas. Babak kesatu kami jelas dan babak kedua kami dapat menjauhkan mereka dari gawang kami.”

“Ini paling besar untuk kami. Kami mempunyai perasaan menang kembali. Yang tentu itu ialah salah satu kemenangan terpenting yang kami miliki dalam tiga tahun terakhir. Semua orang membutuhkan keyakinan ini kembali. Ini paling besar untuk kami.”

“Tidak terdapat yang lebih urgen daripada perasaan menang ini, wajah bahagia di ruang ganti dan di klub dan kami pulang dalam kompetisi setelah 11 pertandingan,” tandas lelaki asal Jerman itu.

Kemenangan ini menciptakan Huddersfield Town naik ke posisi 18 klasemen sedangkan dengan raihan enam poin. Meski masih terdapat di zona degradasi, kemenangan ini pasti akan mengusung mental bertanding kesebelasan yang promosi ke Premier League di musim 2017-18 yang kemudian tersebut.

Giggs Beri Dukungan Saat Rooney Kembali Perkuat Timnas Inggris

Ryan Giggs memberikan sokongan atas kembalinya Wayne Rooney memperkuat kesebelasan nasional Inggris. Giggs pun mengakui bahwa Rooney ialah pemain yang hebat.

Rooney telah dua tahun lebih absen membela kesebelasan nasional Inggris. Namun, ketika pasukan Gareth Southgate menghadapi Amerika Serikat pada 15 November nanti, Rooney dijamin akan pulang bermain. Laga tersebut sendiri bakal dijadikan sebagai laga perpisahan untuk Rooney di timnas Inggris.

“Saya mengetahui itu. Ini ialah pertandingan selebrasi dengan menghadapi Amerika dan saya menyokong untuk itu,” ujar Giggs.

“Dalam sepakbola, dalam olahraga pada umumnya, orang-orang tidak dinyatakan dan telat guna diakui. Ini ialah kesempatan guna tidak melulu menjadi pemain hebat, tapi pun pemain yang ikonik dan pencetak gol terbanyak.”

“Wayne telah mengalahkan Gary Lineker dan Bobby Charlton, dengan mencetak lebih dari 50 gol guna Inggris. Ini memberi peluang untuk dia dapat berterima kasih untuk para fans atas seluruh dukungan, dan fans berterima kasih untuk dia atas tugas yang telah dilaksanakan selama bertahun-tahun.”

“Saya sudah bekerja dengan Wayne, bermain bareng Wayne, dan ia tidak dinyatakan untuk keterampilan yang masih dipunyai dan apa yang dilakukannya di puncak.”

“Saya mengetahui orang-orang yang punya pandangan berbeda, tapi sesudah mengenali Wayne dan apa yang ia kerjakan untuk Inggris, saya tidak menyaksikan ada masalah dengan itu,” tandas Giggs yang ketika ini menjadi manajer kesebelasan nasional Wales itu.

Penampilan Wayne Rooney bareng DC United di tahun ini memang benar-benar luar biasa. Eks pemain Manchester United dan Everton tersebut mampu mencetak 12 gol dan enam assist melulu dari 20 pertandingan. Selain tersebut Rooney pun mampu membawa DC United lolos ke babak playoffs di MLS tahun ini.

Zlatan Ibrahimović: Kualitas Premier League Terlalu Berlebihan

Zlatan Ibrahimovic merasa kualitas Premier League terlampau dibesar-besarkan. Ia pun menyatakan bakal menguasai liga di negeri tiga singa tersebut jika ia datang 10 tahun lebih cepat.

Pemain asal Swedia tersebut menghabiskan mayoritas karirnya di Serie A. Namun, Zlatan pernah menikmati berkarier sekitar satu separuh musim di Premier League dengan memperkuat Manchester United. Kini Ibrahimovic sedang menjalani karier di Major League Soccer (MLS) dengan memperkuat LA Galaxy.

“Saya mempunyai karier yang panjang sebelum saya datang ke sekian banyak negara, sekian banyak jenis klub,” kata Ibrahimovic.

“Orang-orang berkata, ‘Anda tidak butuh pergi ke Inggris, karena andai Anda tidak berhasil di Inggris, orang bakal selalu menuliskan Anda tidak lumayan baik’. Semua orang menentangnya. Dan tebak apa? Itu menciptakan saya termotivasi. Itu memberi saya adrenalin.”

“Saya suka Premier League. Saya merasa paling memotivasi dan paling menyenangkan. Ia mendapat tidak sedikit perhatian, meskipun saya merasa kualitasnya sedikit dibesar-besarkan – kualitas individual, unsur teknis.”

“Tapi ritmenya tinggi. Bahkan andai Anda ialah yang terbaik, andai Anda tidak bisa menangani ritme, kecepatan, maka kita tidak bakal berhasil, sebab kecepatannya paling tinggi.”

“Saya paling bangga dan paling senang bahwa saya bermain guna Manchester United, itu ialah klub yang tepat guna saya.”

“Kami menang, dan saya mengerjakan apa yang saya kerjakan sebelum saya cedera. Saya mempunyai waktu yang paling baik – memori indah. Saya terbelenggu dengan United selamanya. Para pendukungnya luar biasa: ke mana juga saya pergi, saya menyaksikan baju merah, yang paling fantastis. Ini momen yang sangat urgen dalam karier saya.”

Pembuktian menjelang akhir karier
Zlatan merasa sudah membungkam omongan miring saat ia memutuskn bermain di Premier League. Ia pun paling percaya diri andai ia ke Inggris ketika usianya lebih muda maka efek kedatangannya akan paling dahsyat.

“Seperti yang saya katakan saat saya di Inggris, kita beruntung saya tidak datang ke negara tersebut 10 tahun yang lalu, karena andai saya mengerjakan apa yang saya kerjakan pada umur 35 tahun, bayangkan andai saya berusia 25 tahun. Maka tersebut akan menjadi kisah yang berbeda.”

“Saya datang ke sana dan mereka berbicara saya datang dengan kursi roda. Semua orang yang berbicara, di semua Premier League, saya menanam mereka di kursi roda. Itu yang saya lakukan,” tandas Zlatan.

Selama satu separuh musim bermain di Premier League daftar statistik Ibrimovic lumayan apik. Selama waktu itu pemain yang sempat memperkuat Ajax, Juventus, Inter, Barcelona, AC Milan, dan PSG tersebut sukses mencetak 17 gol dari 33 kali tampil di Premier League.

Ini Penyebab Paul Pogba Tidak Dimainkan Di Era Ferguson

Paul Pogba dirasakan tidak lumayan disiplin guna bermain sebagai gelandang tengah ketika masih remaja. Bahkan guna bermain kesebelasan cadangan, menurut keterangan dari mantan bintang Manchester United Darren Fletcher.

Pogba yang saat tersebut adalahpemain remaja familiar pada 2012, meninggalkan Setan Merah secara gratis. Ia bergabung dengan Juventus sebab kurangnya peluang bermain di bawah Sir Alex Ferguson.

Pemain asal Prancis tersebut lantas berkembang menjadi di antara pemain terbaik dunia dengan klub raksasa Serie A. Akhirnya tiba kembali di Old Trafford pada musim panas 2016 dengan harga selama 90 juta pounds.

Namun, Fletcher sudah mengungkapkan bahwa beberapa besar dalil kegagalannya guna masuk ke kesebelasan utama pada ketika itu ialah karena ia tidak lumayan disiplin guna bermain di pusat lini tengah. Dan Manchester United saat tersebut memandangnya sebagai pilihan di posisi yang lebih menyerang.

Fletcher yang punya empiris dengan kesebelasan reserve MU sebab masalah penyakit ulcerative colitis, berkata: “Pertama kali saya menguras waktu dengan penyakit saya, saya sempat mengajar tim cadangan yang berisi semua pemain laksana Pogba, [Jesse] Lingard, [Ravel] Morrison dan kami memainkannya lebih ke depan di lapangan dalam lokasi menyerang,” kata Fletcher untuk Sky Sports.

“Kami merasa bahwa dia ialah orang yang bakal memenangkan pertandingan kami, diperbanyak dengan kenyataan bahwa dia tidak disiplin di lini tengah. Paul sedang di bangku cadangan dan bos memilih Park Ji-Sung dan Phil Jones di lini tengah. Kami tidak beranggapan dia lumayan disiplin guna bermain di kesebelasan cadangan, lagipula di kesebelasan kesatu pada masa-masa itu,” tambahnya.

Peran lebih menyerang guna Pogba
Pogba setelah tersebut membintangi Juventus dan kesebelasan nasional Prancis di lini tengah, dan ia sudah menunjukkan tidak sedikit kualitas dalam kariernya. Contoh teranyar datang dalam pertandingan melawan Bournemouth, di mana Pogba berperan dalam membina serangan sampai terciptanya gol penentu dari Marcus Rashford di Vitality Stadium.

Fletcher masih yakin Pogba masih dapat berkembang lebih baik lagi, dan ia bercita-cita bisa menyaksikan pemain tersebut tampil lebih menyerang di masa depan, di mana dia mempunyai lebih tidak sedikit kesempatan guna menjadi kreatif.

“Saya suka melihatnya di lini serang dan menciptakan sekian banyak hal. Dia bermain guna Juventus di kiri dan saya hendak melihatnya mempunyai sedikit lebih tidak sedikit kebebasan guna mengekspresikan dirinya,” pungkasnya.

Ronaldo Pernah Ditertawakan Saat Latihan Di Manchester United

Cristiano Ronaldo paling berambisi guna menjadi pemain terbaik dunia sekitar waktunya di Manchester United dan kadang-kadang ia bahkan menggunakan mutu di pergelangan kakinya sekitar latihan.

Ronaldo ketika ini tengah menjalani kariernya di Italia sesudah secara mengejutkan menyimpulkan pindah ke Juventus di musim panas tahun ini. Sebelum membela Juventus dan Real Madrid, Ronaldo sempat menguras masa bermain sekitar enam tahun di Old Trafford semenjak 2003 sampai 2009.

Dia melulu seorang remaja saat dia mendarat di Inggris, namun mantan teman setim Fletcher sudah mengungkapkan bagaimana Ronaldo dengan cepat percaya bahwa dia dapat menjadi pemain terbaik di dunia.

“Dia mempunyai pola pikir bahwa dia bakal menjadi pemain terbaik di dunia semenjak dia mendarat di klub,” kata Fletcher untuk Sky Sports.

“Dia menjalani pelajaran dengan level yang berbeda. Pada awalnya, orang-orang menyenangi keinginannya itu, dan ia tidak peduli dengan ucapan orang bahwa menjadi pemain terbaik dunia tidak semudah mengatakannya. Tetapi orang-orang menghormatinya dan menyenangi mentalitasnya guna menjadi yang terbaik,” tambahnya.

Pada umur 33 tahun, Ronaldo masih dirasakan sebagai di antara pemain terbaik di dunia sepak bola dan ia akan dikenang sebagai di antara pemain depan sangat berbakat sepanjang masa. Dan Fletcher pun mengungkap di antara metode latihan mengherankan Ronaldo di umur mudanya.

Tekad bulat jadi pemain terbaik dunia
Metodenya di lapangan pelajaran sering kali membuatnya menemukan kritikan enteng dari teman satu tim. Meski begitu, dia tidak pernah merasa terganggu.

“Ada saat-saat saat dia menempatkan beban di pergelangan kakinya untuk pelajaran dan mengerjakan gerakan cepat. Para pemain menertawakannya namun dia tidak peduli dan tersebut tidak merintangi dia. Pada kesudahannya orang-orang menghormatinya,” lanjut Fletcher.

“Para pemain tidak banyak mengolok-oloknya, namun dalam hati mereka memuliakan usaha itu, keinginan tersebut dan tekad bulatnya guna menjadi pemain terbaik di dunia, dan dia sukses mencapainya,” pungkasnya.

Ronaldo bakal bermain melawan mantan timnya pada pertengahan pekan ini, ketika Juventus menjamu Manchester United di Turin dalam pertandingan penyisihan grup Liga Champions.

Walker Percaya Etihad Stadium Beri Kekuatan Penuh Kepada Man City

Kyle Walker mempercayai bahwa Manchester City mendapat suntikan semangat tambahan dan guna besar dari sokongan penuh fans, sekitar melakoni pertandingan Liga Champions di Etihad Stadium.

Beberapa penyokong City sudah memboikot pertandingan Liga Champions, sebab mereka memiliki kepercayaan UEFA sudah memperlakukan klub secara tidak adil pada sejumlah peluang terpisah semenjak Europa League 2011/12.

City ketika ini menghadapi dakwaan pelanggaran Financial Fair Play (FFP), sesudah ada email bocor yang mengindikasikan pemilik klub telah mengalirkan uang melewati kesepakatan sponsor Abu Dhabi.

Etihad melulu tiga seperempat sarat dalam laga pendahuluan Liga Champions City melawan Lyon. Ketika tersebut mereka menderita kekalahan tipis 2-1, yang secara tidak langsung menodai prestasi empat kekalahan berturut-turut di kancah elite Eropa, dan menjadi klub kesatu yang mengerjakan rekor buruk itu.

Permusuhan antara peminat City dan UEFA telah mengakibatkan pendukung mengejek sepanjang lagu anthem Liga Champions berlangsung. Menyadari urusan ini, Walker percaya terdapat perbedaan sokongan yang dipunyai setiap klub, jadi ia lumayan menikmati situasi ketika ini.

“Saya terlampau [sibuk] berkonsentrasi pada permainan saya daripada mengkhawatirkan semua penggemar, namun jelas Anda mengharapkan atmosfer,” kata Walker.

“Ketika kita pergi ke lapangan tertentu, susah untuk bermain di sana kadang-kadang saat Anda telah mendapat atmosfer dan semua fans sedang di pihak mereka, jadi kami barangkali seperti tersebut sedikit.

“Kami telah sepakat dengan urusan tersebut dan kami mesti tidak mempedulikan sepakbola kami yang berbicara. Kami memiliki sejumlah pemain luar biasa di sana dan fans kami barangkali tidak seharusnya memprovokasi kami mengenai bagaimana kami bakal bermain sepanjang 90 menit.”

City sudah memenangkan dua dari tiga pertemuan terakhir mereka melawan perwakilan Ukraina, Shakhtar Donetsk. Termasuk pertemuan kesatu di penyisihan grup musim ini, saat City menang 3-0 di kandang lawan.

Mereka sekarang akan menjamu Shakhtar pada Kamis (8/11) malam WIB. Walker pun bercita-cita pemain bisa menginspirasi semua penggemar guna tetap sedang di belakang mereka dengan kondisi apapun.

“Jelas semua penggemar Manchester City mempunyai pendapat mereka mengenai Liga Champions yang laksana klaim mereka, tetapi untuk kami sebagai pemain untuk membuat atmosfer di sana dan menolong para penggemar pun – mereka ialah pemain ke-12,” imbuh Walker.

“Kami mempunyai pekerjaan urgen di lapangan guna mendapatkan kemenangan. Kami perlu menciptakan sejarah guna klub ini dan itulah yang hendak kami lakukan.”

Jika dapat mengalahkan Shakhtar pada hari Rabu dan Hoffenheim kalah dari Lyon, City bakal lolos ke babak 16 besar Liga Champions.

Louis van Gaal Lebih Baik Dari Pada Jose Mourinho

Louis van Gaal Lebih Baik Dari Pada Jose Mourinho, Louis van Gaal dinilai lebih berhasil di Manchester United ketimbang Jose Mourinho, walau Van Gaal melulu memenangkan satu trofi Piala FA. Hal demikian dikatakan mantan pemain Setan Merah era 80an, Arnold Muhren.

Pria berkebangsaan Belanda, Muhren pernah bermain guna United antara tahun 1982 sampai 1985. Dia merasa Mourinho terlalu congkak dengan prestasi yang telah dicapainya sekitar ini, sampai-sampai tak maksimal dalam memperjuangkan Setan Merah ke jalur juara lagi semenjak ia mewarisi posisi Van Gaal pada tahun 2016.

Namun demikian prestasi berkata lain. Mourinho berhasil memenangkan tiga gelar di tahun perdananya yaitu Europa League, Piala Liga dan Piala Community Shield. Tapi urusan tersebut dirasa belum lumayan di mata Muhren, yang menginginkan seharusnya terdapat trofi Premier League, Piala FA dan Liga Champions yang dimenangkan.

Sindrom bakal performa buruk kesebelasan yang diajar Mourinho di tahun ketiganya seakan berlanjut musim ini di Old Trafford. Paul Pogba dan kolega berusaha di papan tengah klasemen atau tepatnya di posisi ketujuh, atau sembilan poin di belakang pimpinan klasemen Manchester City.

Akhir pekan nanti duel derby Manchester bakal tersaji, dan Muhren mempercayai Mourinho belum layak menyandang manajer terbaik pasca era Sir Alex andai hasil dan gaya permainan masih tetap sama.

“Sebelum Mourinho, terdapat Louis van Gaal. Dia pun tidak begitu sukses,” kata Muhren untuk Omnisport tentang kompatriotnya, yang melulu memenangkan Piala FA sekitar dua tahun lebih menukangi Setan Merah.

“Di Inggris, mereka segera mulai menggali pelatih yang lebih baik namun pada akhirnya, saya pikir Van Gaal mengerjakan pekerjaan yang lebih baik daripada apa yang dilaksanakan Mourinho.”

“Ya, Mourinho memenangkan Piala liga tetapi tersebut tidak berarti banyak, meskipun dia berpura-pura tersebut berarti banyak. Tapi tersebut tidak sepenting Piala FA. Dan guna klub laksana United, tersebut bukan masalah besar memenangkan final Liga Eropa melawan Ajax, tersebut tidak begitu spesial, kan?”

“Mereka mesti memenangkan Liga Europa, tersebut bahkan bukan Liga Champions. Itu telah cukup.”

“Orang tidak sedikit tidak terkesan dengan teknik bermain Manchester United. Tidak terlarang guna mengakui urusan itu, memarkir bus, namun mereka sama sekali tidak unik untuk ditonton.”

“Saya pernah bermain di Manchester United dan saya tahu mereka suka bermain sepakbola yang bagus dan menarik. Bukan masalah besar andai Anda kalah dalam pertandingan, namun paling tidak Anda mesti kalah dengan sepakbola yang baik dan sarat gairah.”

“Orang-orang tidak suka saat Anda kalah dalam pertandingan dan Mourinho menyalahkan semua pemain, wasit, peminat – dia tidak jarang kali menyalahkan seseorang,” tukasnya.

Ujian berat bakal dilakoni Setan Merah dalam upaya mereka meraih tiket 16 besar Liga Champions. Mereka bakal bertandang ke Turin guna menantang Juventus, yang mengungguli United di Old Trafford dua pekan lalu.